Ada perasaan jauh terpendam, dari dalam renungan di tengah malam yang panjang
Ada gelisah menerawang, kala berharap ada sebuah kenang di masa datang
Ada rindu membuncah, menembus relung hati untuk jiwa yang sepi
Ada salut terkekang, menatap gamang jauh di kilauan
Banyak kisah yang terjadi dalam sebuah perjalanan, tercipta walau tanpa pernah disengajakan ada, atau bahkan terpikirpun tidak. Falsafah biarkan hidup mengalir bagaikan air yang mengalir. Let it flow. Begitu orang sekarang bilang. Maka, berbedalah alur hidup orang yang satu dengan yang lainnya, yang kemudian berpengaruh dengan sikap dan tingkah laku orang. Ada banyak sikap yang mungkin tidak dapat dimengerti dalam sekedipan mata. Ada banyak tindakan yang mungkin tidak bisa diterimakan dalam waktu yang sebentar.
Begitu pula dalam setiap keseharianku. Banyak orang yang ada di sekitaran. Banyak orang, dengan banyak kepala, banyak pemahaman, dan banyak pemikiran. Tentunya. Hanya jika saja andaikata, Tindakan dengan niat baik, dengan maksud yang baik. Dapat diterimakan dengan baik. Atau mungkin orang-orang yang terapriori sehingga memandang apa yang dilakukan sebagai sebuah tindakan buruk dan tidak pantas. Padahal di balik semua itu ada maksud terselubung. Agar membuat semua orang yang ada di sekitaran menjadi sebuah harmoni yang dinamis, yang berada dalam sebuah keajegan sistem. Silaturahmi. Dan berbahagia bersama, collective happiness.
Pun begitu dalam kehidupan sebagai pasangan. Ada dua kepala. Ada dua susunan pusat syaraf. Ada dua keinginan. Ada dua maksud. Ada dua tujuan hidup. Ada dua prinsip hidup. Dan masih banyak dua-dua yang lainnya.
Dengan keinginan bersama, mencapai tujuan bersama, mungkin semua bisa dikurangi. Dieliminasi bahkan. Ketika persamaan niat sudah dicapai, semua bisa diatur, bisa dicari titik kompromi dan solusi. Bukankah sebuah hubungan itu adalah sebuah kompromi? atau hanya penyatuan egoitas yang berbeda.
Saya pribadi memandangnya sebagai sebuah kompromi. Perbedaan yang ada bukan untuk disatukan, namun diselaraskan, diharmoniskan, dan diubah menjadi dinamis, agar tidak statis dan membosankan. Bukankah alur hidup masing-masing sudah terlalu mendarahdaging hingga erat dan tak bisa dihapuskan? Bukan tidak mungkin, tapi rasanya akan tercapai titik jenuh. Beda halnya jika kita menggabungkan dua perbedaan itu, tidak selalu berada pada jalur yang itu-itu saja. Padahal di balik semua itu ada harapan yang terpatok dan tersimpan tinggi, jauh di sana, di langit ke-tujuh mungkin. Kebahagiaan bersama. Kembali, collective happiness.
Hanya, dan jika andaikata. Kebahagiaan itu kemudian menjadi sebuah parameter yang terukur. Mungkin kita akan bisa menaksir besarannya. Tapi, bukankah kebahagiaan itu sebagai sebuah abstraksi tanpa nilai. Bahkan jikapun ada, ia tidaklah terukur adanya. Bisa saja seseorang mampu membeli kebahagiaan, tapi apakah kebahagiaan itu terpenuhi sesuai dengan angannya. Atau kemudian ia akan berpikir bahwa kebahagiaan itu adalah mimpi yang tak terbeli.
Dalam sebuah bis ketika melakukan perjalanan ke luar kota, ada seseorang yang bertanya "saya lihat, kayaknya akang nggak pernah punya masalah ya, wajahnya ringan sekali". Sempat bengong dan tertegun sesaat, apa maksudnya. Kemudian dia meneruskan pertanyaan sederhana tentang saya dan aktivitas, saya jawab seadanya saja tanpa dilebihkurangkan. Dan kemudian bertukar cerita, giliran saya yang mendengar cerita dia dan hidupnya, padahal dari sisi saya, dia sudah bahagia. Sudah punya pekerjaan tetap, dan bahkan calon pengantin pula. Mungkin pada saat tulisan ini saya tuangkan di blog, dia sudah berbahagia bersama pasangannya. Selamat berbahagia, kawan.
Ada pelajaran yang saya dapatkan ketika mendengarkan dia menceritakan banyak kisah hidupnya, ketika bagaimana dia melakukan penaksiran atas sebuah kebahagiaan. Dari sana saya semakin menyadari betapa bahagianya saya, bahkan memiliki waktu untuk sejenak memikirkan mengapa sulit merasakan bahagia, disana terdapat kebahagiaan pula. Berkunjung ke tempat teman, bersilaturahmi, berbincang dan bertukar kisah hidup, memandang hari esok, adalah kebahagiaan yang lain untuk saya. Kebahagiaan yang sebelumnya belum pernah saya rasakan sebagai sebuah kebahagiaan yang utuh dan riil. Karena mungkin parameter kebahagiaan saya yang masih berbentuk materil, bukan pada sisi kebahagiaan immateri. Kebahagiaan jasad, dan belum berjumput pada kebahagiaan ruh. Padahal di balik semua itu, hanya ada satu kata agar kita lebih berbahagia. Bersyukur.
Alhamdulillah. Memang benar adanya, bahkan saya menulis setiap kata ini pun dalam keadaan berbahagia, sehat wal afiat. Subhanallah.
Recent Comments