semburai

bersama celoteh seorang kawan di seberang jalan

desiran angin
denting-denting ranting
kilauan embun
membawaku sejenak terbang jauh ke sana

sekilas terbang, namun aku tak sanggup
perjalanan itu terlalu berat
biarkan aku pergi
lepas dari segala jerat

perkenankan aku berlalu
membawa kenangan manis dan indah bersamamu
jauh menguburnya dalam-dalam
karena aku tak sanggup jika harus membayar semuanya dengan duka

biarkan luka itu ternganga
terbuka, dan mengering seiring waktu
biarkan sakitnya seperti diiris sembilu
karena takkan pernah ada obatnya

membiarkanmu pergi adalah sebuah tanya
tanya besar yang tak pernah terjawab
membiarkanmu berlalu adalah sebuah kebodohan
yang tak pernah terlupakan

pada akhirnya, hidup adalah perjalanan
kita yang menentukan kemana arah dan tujuan
selamat berjuang, kawan
biar aku berdiri di sini saja
di noktah nadir asal aku berdiri

                            

just another snapshot from beginning

Apter









no comments,...

tanda tanya,...

ada pertanyaan yang membutuhkan jawaban, namun

ada pula pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban

ada pernyataan yang digunakan untuk menjawab pertanyaan, namun

ada pula pernyataan yang menimbulkan pertanyaan

tidak semua pertanyaan bisa dijawab, untuk banyak alasan

maaf, kalau saya tidak dapat menjawab pertanyaan itu :D

kontemplasi gagal

kontemplasi itu masih gagal,
belum sepenuhnya bisa direalisasikan,
dosa masih berulang,
tahajud senantiasa terlewatkan,...

bahkan,...
rasa syukur tidak muncul sedikit pun,...
intelektualitas itu terbuang percuma,...
belum bisa memberikan pencerahan bagi orang lain,...

sebuah bentuk lain,...
atas istilah onani intelektual,...

bisa jadi,-

bisa jadi bukan harap kita yang ditunaikan-Nya
bisa jadi bukan pinta kita yang tidak didengar-Nya
bisa jadi bukan do'a kita yang tidak dikabul-Nya

Stressboy ketika dalam sebuah perbincangan, terkemukakan kisah tentang do'a, harap, dan pinta kami pada sang Penguasa. banyak yang berdo'a ingin kaya, tetap sehat, dilimpahi nikmat, dan hampir semuanya mengatakan selamat dunia akhirat. siapa yang tidak mau.

hampir kesemua do'a berirama menyenangkan, dan membahagiakan. apalagi jika yang menjadi objek dari do'a itu adalah kita sendiri, dan atau orang-orang yang kita cintai.

pertanyaan lainnya kemudian bergulir, bagaimana jika yang mendo'akan adalah orang yang pernah kita sakiti atau kita kecewakan, baik dalam kondisi sadar, tahu, dan ataupun sebaliknya. apakah mereka akan berdo'a serupa? atau berdo'a yang sebaliknya, berdo'a agar kita senantiasa tidak diberkahi, dan lain sebagainya.

ya Allah ya Rabbi, jika seandainya aku pernah menyakiti sesiapa, berikan kebahagiaan untuk kami semua
ya Allah ya Rabbi, jadikan mereka yang mendzalimi aku mendapatkan pencerahan, ikhlaskan hatinya, dan juga hatiku, agar kami dapat mensyukuri nikmatMu
ya Allah ya Rabbi, bukakan pintu hati kami semua, agar tidak saling mengucap do'a atas kerusakan masing-masing kami, dan ataupun orang lain
ya Allah ya Rabbi, pemilik segala kebahagiaan dan penuntas segala permasalahan, tunjukkan kami jalan keluar yang kau ridhoi, jika sedianya bentangan permasalahan itu hadir di hadapan kami
Bismillahi, laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyyil adziim

di balik semua itu,...

Ada perasaan jauh terpendam, dari dalam renungan di tengah malam yang panjang
Ada gelisah menerawang, kala berharap ada sebuah kenang di masa datang
Ada rindu membuncah, menembus relung hati untuk jiwa yang sepi
Ada salut terkekang, menatap gamang jauh di kilauan

Oldpeoplesmile_3Banyak kisah yang terjadi dalam sebuah perjalanan, tercipta walau tanpa pernah disengajakan ada, atau bahkan terpikirpun tidak. Falsafah biarkan hidup mengalir bagaikan air yang mengalir. Let it flow. Begitu orang sekarang bilang. Maka, berbedalah alur hidup orang yang satu dengan yang lainnya, yang kemudian berpengaruh dengan sikap dan tingkah laku orang. Ada banyak sikap yang mungkin tidak dapat dimengerti dalam sekedipan mata. Ada banyak tindakan yang mungkin tidak bisa diterimakan dalam waktu yang sebentar.

Begitu pula dalam setiap keseharianku. Banyak orang yang ada di sekitaran. Banyak orang, dengan banyak kepala, banyak pemahaman, dan banyak pemikiran. Tentunya. Hanya jika saja andaikata, Tindakan dengan niat baik, dengan maksud yang baik. Dapat diterimakan dengan baik. Atau mungkin orang-orang yang terapriori sehingga memandang apa yang dilakukan sebagai sebuah tindakan buruk dan tidak pantas. Padahal di balik semua itu ada maksud terselubung. Agar membuat semua orang yang ada di sekitaran menjadi sebuah harmoni yang dinamis, yang berada dalam sebuah keajegan sistem. Silaturahmi. Dan berbahagia bersama, collective happiness.

Pun begitu dalam kehidupan sebagai pasangan. Ada dua kepala. Ada dua susunan pusat syaraf. Ada dua keinginan. Ada dua maksud. Ada dua tujuan hidup. Ada dua prinsip hidup. Dan masih banyak dua-dua yang lainnya.

Dengan keinginan bersama, mencapai tujuan bersama, mungkin semua bisa dikurangi. Dieliminasi bahkan. Ketika persamaan niat sudah dicapai, semua bisa diatur, bisa dicari titik kompromi dan solusi. Bukankah sebuah hubungan itu adalah sebuah kompromi? atau hanya penyatuan egoitas yang berbeda.

Saya pribadi memandangnya sebagai sebuah kompromi. Perbedaan yang ada bukan untuk disatukan, namun diselaraskan, diharmoniskan, dan diubah menjadi dinamis, agar tidak statis dan membosankan. Bukankah alur hidup masing-masing sudah terlalu mendarahdaging hingga erat dan tak bisa dihapuskan? Bukan tidak mungkin, tapi rasanya akan tercapai titik jenuh. Beda halnya jika kita menggabungkan dua perbedaan itu, tidak selalu berada pada jalur yang itu-itu saja. Padahal di balik semua itu ada harapan yang terpatok dan tersimpan tinggi, jauh di sana, di langit ke-tujuh mungkin. Kebahagiaan bersama. Kembali, collective happiness.

Hanya, dan jika andaikata. Kebahagiaan itu kemudian menjadi sebuah parameter yang terukur. Mungkin kita akan bisa menaksir besarannya. Tapi, bukankah kebahagiaan itu sebagai sebuah abstraksi tanpa nilai. Bahkan jikapun ada, ia tidaklah terukur adanya. Bisa saja seseorang mampu membeli kebahagiaan, tapi apakah kebahagiaan itu terpenuhi sesuai dengan angannya. Atau kemudian ia akan berpikir bahwa kebahagiaan itu adalah mimpi yang tak terbeli.

Dalam sebuah bis ketika melakukan perjalanan ke luar kota, ada seseorang yang bertanya "saya lihat, kayaknya akang nggak pernah punya masalah ya, wajahnya ringan sekali". Sempat bengong dan tertegun sesaat, apa maksudnya. Kemudian dia meneruskan pertanyaan sederhana tentang saya dan aktivitas, saya jawab seadanya saja tanpa dilebihkurangkan. Dan kemudian bertukar cerita, giliran saya yang mendengar cerita dia dan hidupnya, padahal dari sisi saya, dia sudah bahagia. Sudah punya pekerjaan tetap, dan bahkan calon pengantin pula. Mungkin pada saat tulisan ini saya tuangkan di blog, dia sudah berbahagia bersama pasangannya. Selamat berbahagia, kawan.

Ada pelajaran yang saya dapatkan ketika mendengarkan dia menceritakan banyak kisah hidupnya, ketika bagaimana dia melakukan penaksiran atas sebuah kebahagiaan. Dari sana saya semakin menyadari betapa bahagianya saya, bahkan memiliki waktu untuk sejenak memikirkan mengapa sulit merasakan bahagia, disana terdapat kebahagiaan pula. Berkunjung ke tempat teman, bersilaturahmi, berbincang dan bertukar kisah hidup, memandang hari esok, adalah kebahagiaan yang lain untuk saya. Kebahagiaan yang sebelumnya belum pernah saya rasakan sebagai sebuah kebahagiaan yang utuh dan riil. Karena mungkin parameter kebahagiaan saya yang masih berbentuk materil, bukan pada sisi kebahagiaan immateri. Kebahagiaan jasad, dan belum berjumput pada kebahagiaan ruh. Padahal di balik semua itu, hanya ada satu kata agar kita lebih berbahagia. Bersyukur.

Alhamdulillah. Memang benar adanya, bahkan saya menulis setiap kata ini pun dalam keadaan berbahagia, sehat wal afiat. Subhanallah.

Menentukan konsep baik dan terbaik

Setiap orang akan selalu mendambakan sesuatu terbaik bagi dirinya, tapi apakah mampu ia mendapatkannya? bilamana ia dapat mengatakan bahwa ia sudah mendapatkannya? konsep dan parameter apa yang hendak ia raih untuk kemudian menyatakan bahwa sesuatu  itu baik atau terbaik bagi dirinya.

Dalam perjalanan seorang anak manusia yang tidak pernah mencapai klimaks dari sebuah kata kepuasan, akan selalu ada ekspektasi untuk menjangkau (sekalipun di luar batas kemampuannya) titik sempurna, baik dirinya, maupun sesuatu bagi dirinya.

Manusia menentukan parameter terbaik menurut dirinya saja, konsep ini yang kemudian membuat mereka untuk selalu berfikir kekurangan apa yang dimiliki oleh sesuatu yang ia miliki, hingga tak akan pernah tercetus bahwa ini adalah sesuatu yang terbaik yang saya miliki. Baru kemudian setelah kita kehilangan satu demi satu, bagian demi bagian yang telah menjadi kepunyaan kita untuk kemudian berpindah tangan atau hilang dari pandangan, kita merasakan kehilangan. Bahkan teramat sangat. Jikapun mendapatkan sesuatu yang baik, walaupun dengan kualitas yang sama dan tidak jauh beda, rasa kepemilikan itu tidak akan pernah sebesar benda yang pertama.

Jadi, tahapan pertama untuk bisa menentukan sesuatu itu baik atau tidak, cukup gampang saja, apakah kebutuhan kita akan sesuatu itu sudah terpenuhi, dalam batasan minimal (jadikan itu sebagai sebuah constraint), jika sudah, pertimbangkan kembali untuk melakukan optimasi dari apa yang sudah kita punya.

Begitu pula dalam konsep cinta. Kenali siapa yang menjadi pasangan kita, maka kita akan dapat mencintainya, jika kita mencintainya, maka akan pernah timbul rasa takut kehilangan. Rasa takut kehilangan itu akan dan hanya akan ada jika kita pernah memiliki sesuatu. Jika boleh mengutip dari sebuah percakapan pada sebuah film, "mencintai dan keinginan untuk memiliki itu berbeda".

nb. sebenarnya belum tertuang apa yang ada di pikiran, namun biarlah, saya tuliskan seadanya saja.

sudah waktunya

kenangan adalah bagian dari masa lalu yang akan membuat kita menghargai hidup
namun demikian, biarlah kenangan itu tersimpan dalam sebuah album bersama indahnya masa lalu

beranjak, sudah saatnya
hanya menanti saat yang tepat untuk kemudian mengucapkan

"maukah kau menikah denganku"

dalam harap cemas menanti jawaban,...

Jika ada, ...

Jika ada harap dan asa menggunung
maka perkenankan diriku wahai jagat
aku meminta,...

Wahai penguasa jagat,...
perkenankan aku meminta,...
izinkan aku meminta,...
aku memohon dengan sangat,...
mohon dengan sangat,...
mohon dengan sangat,...

jika hendak alam kabulkannya
aku meminta dalam tulusnya pinta
perkenankan aku,...
dan dirinya,...
mengakhiri semua kisah ini,...
dan awali kisah baru,...
kisah baru kami,...
berdua,...

belum tahu

ketika sampai 80 dari 100
ketika tak ada alasan logis negatif
ketika bergantung sebuah maksud
ketika muncul sebuah niat
ketika,... dan ketika lainnya

apakah ini sebuah keyakinan,...
apakah ini pertanyaan terberat?
apakah ini awal kisah yang akan mengganti ruang hidup
dan apakah ini penjajagan yang tidak akan berganti lagi
dan apakah-apakah lainnya

aku hanya belum tahu
apa jawab semua ini
karena sungguhpun
aku tak tahu, apa pertanyaannya,...